Kawasan Industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di dalam kawasan sebagai bagian dari komitmen menuju industri hijau dan target Net Zero Emission 2060. Sejumlah tenant telah mengoperasikan PLTS dengan total kapasitas bervariasi, sementara beberapa perusahaan lain masih dalam tahap pengembangan. Deputy Operational Director PT IMIP Yulius Susanto menyatakan percepatan ini merupakan langkah konkret mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
MOROWALI — Sejumlah perusahaan di kawasan IMIP telah mengoperasikan PLTS dengan kapasitas berbeda-beda. PT BTR memimpin dengan 9,5 megawatt peak (MWp), disusul PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) 0,957 MWp, PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry (GCNS) 0,304 MWp, dan PT Ocean Sky Metal Industry (OSMI) 0,188 MWp.
Perusahaan lain menyusul dengan skala lebih besar. PT Dexin Steel Indonesia (DSI) tengah mengembangkan PLTS atap berkapasitas 66 MWp menggunakan sekitar 119.800 panel surya di atas lahan seluas 396.700 meter persegi.
PT Sesmo sedang mengembangkan PLTS berkapasitas 200 MWp di atas lahan sekitar 200 hektare. Sementara PT PMMI segera menyelesaikan instalasi PLTS 0,57 MWp, dan PT QMB tengah memetakan pemanfaatan energi surya guna menekan ketergantungan pada energi fosil.
"Kami sudah berkomitmen untuk menuju green industry, salah satunya pengurangan penggunaan bahan bakar fosil," kata Deputy Operational Director PT IMIP Yulius Susanto, di Morowali, Sulawesi Tengah, Senin.
IMIP mulai menerapkan penyesuaian teknologi PLTS di sejumlah tenant. PT GCNS dan ITSS memanfaatkan area atas kanal melalui konsep Canal Top Solar PV.
Untuk tenant seperti OSMI, BTR, PMMI, QMB, dan DSI memasang PLTS atap pada bangunan industri mereka. Pendekatan berbeda disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan masing-masing perusahaan.
Yulius menjelaskan penerapan energi surya membutuhkan investasi dan biaya cukup besar. PLTS belum bisa serta-merta menggantikan seluruh kebutuhan energi fosil di kawasan tersebut.
"Pada intinya ini merupakan bagian dari proses transformasi menuju sistem energi yang lebih beragam dan efisien, sehingga diharapkan adanya PLTS bisa menunjukkan kawasan industri di IMIP menuju green industry," ujarnya pula.
Langkah ini sejalan dengan prinsip keberlanjutan IMIP yang mengedepankan efisiensi sumber daya dan meminimalkan dampak lingkungan di setiap proses produksi. Pemanfaatan energi tenaga surya menjadi upaya konkret perusahaan dalam mengurangi emisi dari aktivitas industri.