SULAWESI TENGAH — Baterai LFP yang dipakai mobil dan motor listrik di Indonesia disebut bisa berfungsi hingga 20 tahun, jauh lebih panjang dibanding baterai NMC yang rata-rata 10 tahun. Klaim itu disampaikan Wakil Ketua Pengembangan dan Penelitian Periklindo Prabowo Kartoleksono dalam Rapat Dengar Pendapat di DPR. Selain usia pakai, baterai LFP juga lebih murah dan lebih tahan panas.
Prabowo Kartoleksono membeberkan perbandingan usia pakai kedua jenis baterai tersebut saat berbicara di hadapan peserta rapat. Menurut dia, selisihnya cukup signifikan dan menjadi alasan utama produsen kendaraan listrik mengalihkan pilihan ke LFP.
"LFP jauh lebih panjang umurnya, katakanlah kalau NMC 10 tahun, LFP itu mungkin teman-teman dari Aismoli bisa mengkoreksi saya, mungkin 20 tahun masih bisa berfungsi," ujar Prabowo.
Selain soal usia, laju degradasi baterai LFP disebut tidak secepat NMC. Artinya, kapasitas penyimpanan energinya menurun lebih perlahan seiring pemakaian.
Faktor itu yang membuat banyak manufaktur kini lebih memilih LFP untuk model produksi massal. BYD, Wuling, dan Chery termasuk merek yang sudah memakai baterai ini di lini mobil listrik mereka di Indonesia.
Aspek keselamatan menjadi poin lain yang diunggulkan. Prabowo menyebut baterai LFP butuh suhu jauh lebih tinggi untuk bisa terbakar dibanding NMC.
"LFP itu jauh lebih aman karena secara teknis titik nyalanya NMC itu 200 derajat celcius dia langsung jadi api, kalau LFP 800 (derajat), Pak. Jadi dia membutuhkan temperatur yang lebih tinggi untuk bisa menjadi api. Nah ini salah satu kenapa banyak manufaktur memilih LFP karena memang lebih aman," terangnya.
Selisih 600 derajat Celsius itu memberi margin keamanan lebih besar, terutama pada kondisi pengisian daya atau cuaca panas ekstrem.
Dari sisi biaya produksi, baterai LFP juga lebih ekonomis ketimbang NMC. Faktor ini krusial karena komponen baterai menyumbang porsi besar dari total harga sebuah kendaraan listrik.
Dengan baterai yang lebih murah, produsen punya ruang lebih lebar untuk menekan harga jual. Ini menjelaskan mengapa model-model listrik entry-level di pasar Indonesia mayoritas mengusung LFP.
Di balik keunggulannya, LFP punya keterbatasan yang diakui Prabowo. Densitas energinya per satuan berat tidak sebaik NMC.
"Kelemahan LFP itu lebih berat. Jadi densitynya dalam satuan berat tidak sehebat NMC yang bisa menyimpan energi. Nah ini yang kemudian selama berapa tahun dikembangkan habis-habisan di Tiongkok," tutur Prabowo.
Artinya, untuk kapasitas energi yang sama, baterai LFP akan lebih berat. Ini berdampak pada bobot kendaraan dan efisiensi jarak tempuh.
Kekurangan densitas energi itu tengah dikejar lewat riset dan pengembangan di Tiongkok. Sejumlah produsen berupaya mendorong performa LFP agar mendekati level NMC.
Perkembangan ini bakal menentukan seberapa jauh LFP bisa dipakai di segmen kendaraan listrik premium yang menuntut jarak tempuh panjang dengan bobot seminimal mungkin. Untuk konsumen Indonesia, pilihan baterai pada akhirnya bermuara pada kompromi antara harga, usia pakai, dan jarak jelajah.