SULAWESI TENGAH — Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) mendorong agen perjalanan mengembangkan paket wisata berbasis ramah lingkungan melalui sosialisasi dan workshop bagi anggota di berbagai daerah. Para agen didorong mengemas storytelling konservasi dalam setiap paket, sehingga wisatawan tahu kontribusi pembelian paket terhadap pelestarian hutan atau terumbu karang. Langkah ini menyusul makin populernya destinasi hidden gem yang viral di media sosial dan berisiko menimbulkan masalah sampah.
CEO dan Founder Travel Point Indonesia Bidang Usaha dan Kemitraan Astindo, Jumriani, menyampaikan hal tersebut dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar edisi Sabtu, 3 Oktober 2026. Menurutnya, sosialisasi dan workshop menyasar anggota Astindo agar tidak sekadar menjual paket wisata, tetapi juga menyampaikan nilai dan manfaat konservasi di balik setiap perjalanan.
Para agen travel diberi pemahaman untuk mulai mengemas cerita di balik paket wisata yang mereka tawarkan. Dengan begitu, wisatawan dapat memahami bahwa pembelian paket tur turut memberikan kontribusi terhadap pelestarian lingkungan.
"Para anggota diberikan sosialisasi untuk mulai mengemas cerita di balik paket wisata mereka. Jadi, ketika wisatawan membeli paket tersebut, mereka mengetahui bahwa ada kontribusi terhadap pelestarian hutan atau terumbu karang tertentu," ujar Jumriani.
Travel Point Indonesia saat ini tengah mempersiapkan program penanaman pohon sebagai bentuk kontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Program tersebut direncanakan berlangsung di berbagai wilayah Indonesia.
Pelaksanaannya membutuhkan persiapan matang, terutama memastikan dana yang disisihkan dari penjualan paket wisata dapat disalurkan secara transparan untuk kegiatan penanaman pohon. Sebagian hasil penjualan paket tur akan disisihkan untuk mendukung program tersebut.
"Setiap hasil dari penjualan paket tur, dananya kami sisihkan untuk penanaman pohon. Kami juga harus bisa menyampaikan kepada tamu dan membangun kepercayaan, salah satunya dengan menyiapkan sistem agar tamu dapat melihat lokasi pohon yang mereka tanam," jelas Jumriani.
Selain sosialisasi dan workshop, Astindo memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan berbagai kegiatan dan program pariwisata berkelanjutan. Informasi tersebut dibagikan melalui akun media sosial Astindo, termasuk Astindo DPD Sulawesi Selatan.
Jumriani menilai keberhasilan pengembangan pariwisata berkelanjutan membutuhkan kemitraan antara pemerintah, agen perjalanan, dan komunitas lokal. Ketiga pihak memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga kelestarian destinasi sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pemerintah dapat berperan melalui penyediaan regulasi dan infrastruktur yang mendukung pariwisata ramah lingkungan. Agen perjalanan berperan sebagai penghubung pasar dan wisatawan, sedangkan komunitas lokal bertugas menjaga kualitas serta keaslian destinasi.
Jumriani menyoroti fenomena destinasi wisata tersembunyi atau hidden gem yang kemudian viral di media sosial. Konten dari influencer atau wisatawan dapat membuat lokasi yang sebelumnya belum banyak dikenal menjadi ramai dikunjungi.
Popularitas yang meningkat tanpa diikuti pengelolaan yang baik dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, salah satunya persoalan sampah.
"Ketika tempat yang sebelumnya belum banyak diketahui kemudian viral di media sosial, banyak orang datang berkunjung. Dampaknya terhadap lingkungan bisa menjadi tidak baik karena wisatawan membawa sampah," kata Jumriani.
Jika suatu lokasi memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata, masyarakat dapat berkoordinasi dengan pemerintah setempat, seperti kepala desa, untuk menyiapkan sistem pengelolaan yang mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.