Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan kabut asap yang menyelimuti Kota Palu dan sekitarnya berasal dari sebaran kebakaran hutan dan lahan regional Sulawesi Tengah, dengan titik terbanyak dari Kabupaten Morowali dan Tojo Una-Una. Peningkatan konsentrasi polutan udara di ibu kota provinsi itu terpantau sejak akhir September 2026, dan kualitas udara sempat masuk kategori tidak sehat. Puncaknya terjadi Minggu (4/10), saat konsentrasi PM10 menyentuh 130 mikrogram per meter kubik dan PM2,5 mencapai 132 mikrogram per meter kubik.
PALU — Ketua Tim Layanan Publik dan Humas BMKG GAW Lore Lindu Bariri Soeharto menyampaikan bahwa pergerakan angin di atmosfer membawa kabut asap karhutla regional hingga masuk dan mengepung wilayah Kota Palu. Pemantauan citra satelit menunjukkan sebaran asap tidak hanya berasal dari titik panas lokal di Sulawesi Tengah.
Sejak 28 September, konsentrasi PM10 sudah masuk kategori sedang, sementara PM2,5 berada dalam kategori tidak sehat. Kondisi memburuk pada Minggu (4/10) ketika kedua partikulat menyentuh angka tertinggi dalam periode pengamatan tersebut.
Pemantauan rentang tujuh hari ke belakang menunjukkan kontribusi sebaran asap karhutla dari wilayah Papua Selatan yang terbawa angin. Titik panas dari luar provinsi itu menambah beban polutan yang sudah terkumpul di atmosfer Palu.
"Selain titik panas lokal di Sulteng, pemantauan rentang waktu tujuh hari ke belakang juga menunjukkan adanya kontribusi sebaran asap karhutla dari wilayah Papua Selatan yang terbawa angin," kata Soeharto.
Fenomena iklim El Nino memperparah kondisi karhutla di wilayah tersebut. Curah hujan yang berkurang drastis membuat polutan tidak lagi tersapu dari udara seperti pada kondisi normal.
"Pada kondisi normal hujan berfungsi membersihkan udara dari polutan sehingga kualitas udara biasanya berada di kategori baik hingga sedang. Namun saat ini curah hujan berkurang drastis," ujarnya.
Menurut Soeharto, hilangnya mekanisme pembilasan alami itu membuat konsentrasi partikulat bertahan tinggi lebih lama dibandingkan periode biasa.
BMKG memprediksi kualitas udara Kota Palu beberapa hari ke depan masih berada pada konsentrasi PM10 kategori sedang dan PM2,5 kategori tidak sehat. Warga diminta tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar rumah.
Masyarakat disarankan selalu menggunakan masker dan mengenakan pakaian tertutup guna menghindari sengatan matahari langsung.
"Termasuk menjaga hidrasi tubuh untuk mencegah dehidrasi, serta tidak memperparah kondisi udara dengan melakukan pembakaran sampah sembarangan," kata Soeharto.
Data BMKG GAW Lore Lindu menjadi rujukan utama pemantauan kualitas udara di wilayah Palu dan sekitarnya selama periode karhutla regional ini.