SULAWESI TENGAH — OpenAI merilis Intelligent UI pada GPT-6, fitur yang membuat ChatGPT menyajikan jawaban dalam bentuk grafik, diagram, dan simulasi interaktif. Product Manager OpenAI Aarush Selvan menyatakan akurasi menjadi perhatian utama pengembangan fitur ini. Peluncuran berlangsung 8 Oktober 2026, namun perusahaan belum merinci tingkat kesalahan visual dibanding jawaban teks.
Aarush Selvan, Product Manager OpenAI, menegaskan bahwa validasi Intelligent UI tidak berhenti pada teks jawaban. Pengujian juga mencakup konten yang ditampilkan lewat antarmuka interaktif, karena ChatGPT kini menentukan sendiri bagaimana sebuah informasi disajikan kepada pengguna.
Pendekatan itu diambil OpenAI setelah fitur Intelligent UI resmi diluncurkan pada 8 Oktober 2026 sebagai salah satu kemampuan unggulan GPT-6. Lewat fitur ini, ChatGPT tidak lagi terbatas pada percakapan berbasis teks, tetapi bisa menampilkan grafik, diagram, simulasi, hingga elemen yang bisa diubah langsung oleh pengguna.
Intelligent UI memungkinkan ChatGPT memilih format penyajian jawaban secara mandiri. Alih-alih hanya mengirim paragraf teks, model bisa merangkai visualisasi yang relevan dengan pertanyaan pengguna.
Dalam demonstrasi yang diperlihatkan OpenAI, ChatGPT membuat simulasi interaktif untuk menjelaskan aturan offside sepakbola. Pengguna dapat mempelajari posisi pemain dan memahami kapan offside terjadi.
Contoh lain adalah diagram interaktif tentang cara sayap pesawat menghasilkan gaya angkat. Pengguna bisa mengubah sudut serang sayap dan melihat pengaruhnya terhadap gaya angkat yang dihasilkan.
Informasi yang dikemas dalam tampilan menarik dan interaktif berpotensi terlihat lebih meyakinkan bagi pengguna, meskipun belum tentu sepenuhnya akurat. Risiko ini yang coba ditekan OpenAI sejak tahap pengembangan.
"Kami meluangkan waktu untuk memastikan jawaban yang dihasilkan benar-benar faktual. Kami terus memantau hal tersebut dan berupaya meningkatkannya," ujar Aarush saat media briefing yang digelar virtual, Kamis (8/10/2026).
Ia mencontohkan grafik yang dihasilkan ChatGPT. OpenAI berupaya memastikan visualisasi tersebut tidak hanya menarik secara tampilan, tetapi juga relevan dengan pertanyaan dan akurat dalam menyampaikan informasi.
"Misalnya, jika kami menampilkan grafik, kami ingin memastikan bahwa grafik tersebut relevan dan akurat," tambahnya.
OpenAI menyatakan pengujian Intelligent UI mencakup dua lapisan sekaligus: ketepatan informasi dalam bentuk teks dan konten yang ditampilkan melalui antarmuka interaktif. Karena pengguna bisa berinteraksi langsung dengan materi, ketepatan informasi menjadi aspek penting agar visualisasi tidak menimbulkan pemahaman yang keliru.
"Dengan Intelligent UI, kami memastikan bahwa pengujian dan validasi tidak hanya dilakukan terhadap teks, tetapi juga konten yang ditampilkan dalam antarmuka," jelas Aarush.
Meski telah melakukan pengujian dan validasi, OpenAI tidak mengklaim seluruh informasi yang dihasilkan Intelligent UI bebas dari kesalahan. Aarush mengakui peningkatan kemampuan model AI dalam menghasilkan informasi faktual masih menjadi tantangan penelitian yang terus dikerjakan.
"Membuat model menjadi lebih faktual merupakan upaya penelitian yang terus berlangsung," ungkapnya.
Ia menegaskan OpenAI tetap berfokus meningkatkan kualitas jawaban, termasuk ketika informasi disajikan melalui elemen visual dan interaktif.
"Bahkan dengan Intelligent UI, kami sangat berfokus untuk memastikan semua yang Anda dapatkan dalam sebuah jawaban seakurat dan sebermanfaat mungkin," lanjut Aarush.
Dalam sesi tersebut, OpenAI tidak merinci metode teknis yang digunakan untuk memvalidasi grafik maupun simulasi interaktif. Perusahaan juga belum memaparkan angka tingkat kesalahan Intelligent UI dibandingkan jawaban berbasis teks.
Ketiadaan data pembanding itu membuat pengguna belum bisa menilai seberapa besar risiko salah tafsir dari jawaban visual ChatGPT. Untuk data, grafik, atau penjelasan yang menuntut ketepatan tinggi, sikap kritis tetap diperlukan.
Peluncuran Intelligent UI menandai arah baru ChatGPT yang lebih visual dan intuitif. Bagi pengguna di Indonesia, fitur ini berpotensi mengubah cara belajar topik rumit seperti fisika atau olahraga, sekaligus menuntut kehati-hatian ekstra dalam memverifikasi informasi yang tampil meyakinkan.