MOROWALI — Bangunan megah itu berdiri di kawasan pusat pemerintahan. Namun, di dalamnya hanya ada ruang kosong dan dinding. Gedung Kebudayaan Kabupaten Morowali belum berfungsi sama sekali sejak pembangunannya selesai dua tahun lalu.
Nasibnya kontras dengan proyek Sport Center yang lokasinya persis bersebelahan. Di sisi kiri, etalase museum senilai ratusan juta ditahan. Di sisi kanan, paket-paket Sport Center bernilai miliaran justru berjalan cepat. Alat berat masuk, semen mengalir, dan anggaran cair tanpa hambatan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Morowali, Arifin Lakane, memberi alasan yang sama setiap kali ditanya. "Kami masih menunggu persetujuan Telaahan Staf dari Bupati," katanya, Rabu (8/7/2026).
Jawaban itu membuat publik bertanya-tanya. Sebab, Kabid Kebudayaan Hajah Suryani sudah mendesak sejak Januari. Baginya, etalase bukan aksesoris. Tanpa etalase, koleksi sejarah Morowali terus membusuk di gudang.
Perpres 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa tidak menyebut telaahan staf sebagai syarat tender. Setelah proyek masuk RUP dan SiRUP, proses bisa berjalan. Telaahan staf adalah kebijakan internal, diskresi, bukan hukum.
Pertanyaan yang muncul: kenapa aturan karet ini hanya berlaku untuk etalase Rp 308 juta? Kenapa tidak berlaku untuk paket Sport Center yang nilainya puluhan kali lipat? Morowali Watch sudah meminta penjelasan. Mereka mendesak agar standar prosedur tidak dipilih-pilih.
Setiap hari penundaan adalah penghinaan terhadap uang rakyat. Penghinaan terhadap sejarah Morowali yang seharusnya dipamerkan. Penghinaan terhadap anak-anak sekolah yang tidak punya tempat belajar budaya sendiri.
Masyarakat Morowali sudah menunggu dua tahun. Kesabaran mereka diuji oleh satu lembar kertas yang belum ditandatangani. Berapa lama lagi gedung ini akan menjadi monumen gagalnya birokrasi?